"Kami tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kami; kami meminjamnya dari anak-anak kami."
Selama ini, kita terbiasa mendengar frasa manis: "Negeri ini adalah warisan dari nenek moyang kita." Kata "warisan" terasa hangat, membangkitkan rasa bangga dan hormat kepada para pendahulu. Namun, tanpa disadari, paradigma ini telah menjebak kita ke dalam pola pikir yang berbahaya.
Mengapa? Karena warisan—dalam pengertian konvensional—adalah sesuatu yang:
Ketika kakek-nenek meninggalkan sebidang tanah warisan, tanah itu akan dipecah-pecah. Semakin banyak pewaris, semakin kecil bagian masing-masing. Nilainya tidak bertambah, justru tergerus. Begitu pula dengan negeri ini: hutan, air, tambang, udara bersih—ketika kita anggap sebagai "warisan", kita cenderung membaginya tanpa pikir panjang. Akibatnya, sumber daya menipis, dan anak cucu hanya mendapatkan sisa-sisa.
Warisan datang gratis. Kita tidak perlu berkeringat, tidak perlu berkorban. Hanya karena nasib terlahir di negeri ini, kita merasa berhak atas segala isinya. Rasa "mudah menerima" ini melahirkan mentalitas instan: "Ah, biar saja. Nanti juga ada yang mengurus."
Coba lihat: berapa banyak hutan lindung yang berubah status menjadi kebun sawit? Berapa banyak wilayah pesisir yang dijual untuk reklamasi? Berapa banyak izin tambang yang diperjualbelikan seperti permen? Karena "warisan" dianggap milik pribadi generasi sekarang, kita merasa berhak menjualnya untuk keuntungan sesaat.
Manusia cenderung meremehkan apa yang datang dengan mudah. Kita buang air bersih seperti tidak akan pernah habis. Kita tebang pohon tua tanpa perasaan bersalah. Kita polusi sungai dan udara seolah bumi ini hotel murah yang besok bisa pindah. Ini semua karena kita tidak pernah susah payah menciptakannya.
Sekarang, bayangkan jika kita mengubah sudut pandang. Negeri ini bukan warisan, melainkan pinjaman dari anak cucu kita. Kata "pinjaman" langsung membawa konsekuensi moral yang jauh lebih berat:
Tidak ada pinjaman tanpa pengembalian. Anak cucu kita kelak akan menagih. Bukan dengan surat somasi, tapi dengan penderitaan: banjir yang lebih parah, udara yang lebih panas, kelangkaan air bersih, punahnya sumber pangan. Ketika kita menganggap ini pinjaman, kita sadar bahwa kita tidak bisa menghabiskan semuanya sekarang.
Jika Anda meminjam mobil teman, Anda wajib mengembalikannya dalam kondisi yang sama: tidak penyok, tidak mogok, tidak kurang bensin. Demikian pula dengan negeri ini. Anak cucu berhak menerima hutan yang setidaknya sama rimbunnya, air yang setidaknya sama jernihnya, dan udara yang setidaknya sama segarnya dengan yang kita terima. Bukan sisa-sisa yang sudah rusak.
Inilah yang paling menantang. Pinjaman yang baik—terutama pinjaman lintas generasi—bukan hanya dikembalikan utuh, tapi lebih baik dari saat dipinjam. Ini disebut "bunga ekologis" dan "bunga sosial". Artinya:
Ini bukan sekadar menjaga, tapi meningkatkan kualitas pinjaman. Inilah tanggung jawab sejati.
Coba renungkan sejenak:
Mari jujur: generasi kita mungkin adalah generasi paling boros dalam sejarah peradaban negeri ini. Kita mengambil lebih dari yang kita berikan. Kita meninggalkan jejak karbon yang tidak akan terurai sampai cucu cicit kita sakit-sakitan.
Seorang filsuf pernah berkata, "Masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang memperlakukan generasi mendatang sebagai sesuatu yang nyata, bukan abstraksi."
Ketika kita menganggap negeri ini warisan, kita bebas bersikap semaunya. Tapi ketika kita menganggapnya pinjaman, kita akan berpikir dua, tiga, bahkan sepuluh kali sebelum mengambil keputusan.
Jadi, mulailah dari hal kecil hari ini:
Karena suatu saat, anak cucu kita tidak akan bertanya, "Apa yang dulu kakek/nenek kita wariskan?"
Mereka akan bertanya, "Apa yang kalian pinjam dari kami, dan apakah kalian mengembalikannya dengan bunga?"
Semoga kita tidak malu menjawabnya.
"Kita tidak berhak menghabiskan modal alam yang bukan milik kita. Kita hanyalah pengelola sementara yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh generasi yang belum lahir."